TRADISI SIRAMAN DI AIR TERJUN SEDUDO DALAM MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
TRADISI SIRAMAN DI AIR TERJUN SEDUDO DALAM MANUSIA DAN
KEBUDAYAAN

DISUSUN
OLEH :
AHMAD
ASTAJIB
1KA21
10118323
JURUSAN SISTEM INFORMASI 2018/2019
UNIVERSITAS GUNADARMA
Kata Pengantar
Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada
waktunya. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam memberikan kontribusi demi kelancaran dalam penyusunan makalah
ini.
Saya berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun
terlepas dari itu, saya memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata
sempurna, untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
demi tersusunnya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.
Daftar Isi
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I : Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Tujuan
1.4. Manfaat
Bab II : Pembahasan
2.1. Gambaran Umum Prosesi Siraman
2.2. Latar Belakang Prosesi Siraman di Air Terjun
Sedudo
2.3. Maksud dan Tujuan Prosesi Siraman di Air
Terjun Sedudo
2.4. Tata cara Prosesi Siraman di Air Terjun
Sedudo
2.5. Perlengkapan Prosesi Siraman di Air Terjun
Sedudo
2.6.
Pelaksanaan Prosesi Siraman di Air Terjun Sedudo
2.7. Nilai-nilai Prosesi Siraman di Air Terjun
Sedudo
Bab III : Penutup
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran
Daftar Pustaka
Bab I :
Pendahuluan
1.1.
Latar Belakang
Mitos
tak bisa dipisahkan dalam kehidupan bermasyarakat, hal ini semakin menjadi kuat
apabila dalam sautu masyarakat tertentu mempercayai hal-hal yang berhubungan
dengan permasalahan adi kodrati. Menurut Van Peursen, mitos adalah sebuah
cerita yang memberikan pedoman dan arah tertentu kepada sekelompok orang.
Fungsi mitos ialah menyadarkan manusia bahwa ada kekuatan-kekuatan ajaib
sekaligus sebagai pengantara antara manusia dan daya-daya kekuatan alam. Lewat
mitos manusia dapat turut serta mengambil bagiandalam kejadian-kejadian
sekitarnya serta dapat menanggapi daya-daya kekuatan alam. (Van Peursen, 1988:
37).
Tradisi
siraman dalam masyarakat desa Ngliman Kecamatan Sawahan Kabupaten )ganjuk sarat
akan mitos. Mitos pada dasarnya merupakan sebuahmanifestasi dari kebudayaan. kebudayaan
adalah sesuatu yang hidup, yang bereksistensi dalam interaksi manusia-manusia
yang hidup. kebudayaan yang sebenarnya merupakan nafas masyarakat sebagai
manusia. Kebudayaan itu tidak dapat mati tetapi dapat tertimbun. Kebudayaan
dapat dihambat dengan pertumbuhan dan dapat dicegah dengan rekayasa
(Magnis-Suseno, 1992:31).
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
gambaran umum prosesi siraman masyarakat Desa Ngliman, kecamatan Sawahan,
Kabupaten Nganjuk?
2. Apa
nilai tradisi siraman masyarakat Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk?
1.3. Tujuan
Tujuan disusunnya
makalah ini untuk menggambarkan secara umum sejarah upacara siraman,
menganalisis herarki nilai yang ada dalam upacara siraman. Menganalisis dan
mengevaluasi secara kritis nilai nilai yang perludipertahankan dalam upacara siraman.
1.4. Manfaat
Dengan
adanya pengetahuan tentang budaya lokal, maka diharapkan generasi muda mampu
untuk menjaga dan memelihara tradisi di daerah Nganjuk, salah satunya tradisi
siraman di air terjun Sedudo.
Bab II :
Pembahasan
2.1. Gambaran Umum Prosesi Siraman
Air
terjun Sedudo dengan tinggi 105 meter berada di kaki gunung Wilis. Lokasi ini
tak hanya memnebarkan keelokan dalam balutan kesejukan udara nan bersih dan
segar, tetapi juga mitos yang menyatu dalam keyakinan masyarakat. Konon, siapa
pun yang mandi di kolam atau di bawah air terjun bisa mendapatkan berkah
keselamatan, awet muda, disembuhkan dari segala penyakit. Setiap bulan sura,
dalam tradisi jawa, ribuan warga berdatangan dan melakukan prosesi siraman di
bawah air terjun Sedudo. Bahkan sejumlah pejabat juga datang untuk mengikuti
prosesi siraman tersebut.
2.2. Latar Belakang
Prosesi Siraman di Air Terjun Sedudo
Diceritakan
bahwa kata Sedudo berasal dari kata Se dan Dudo. Se berarti satu dan Dudo yang
berarti orang yang tidak beristri. Menurut kepercayaan penduduk, san Dudo itu
adalah orang yang membuka (cikal bakal) Desa Ngliman, yang setiap hari
digunakan sebagai tempat mandi sang Dudo yang dianggap sebagai cikal bakal desa
Ngliman itu. Kebiasaan mandi di air terjun tersebut kemudian diikuti oleh
masyarakatdesa Ngliman. Hanya saja kebiasaan mandi tersebut tidak dilakukan
setiap hari, melainkan pada setahun sekali bulan Sura.
2.3. Maksud dan Tujuan Prosesi Siraman di Air
Terjun Sedudo
Maksud
dan tujuan prosesi siraman di air terjun Sedudo adalah ungkapan rasa syukur
pada Tuhan yang maha kuasa karena telah terhindar dari musibah dan bencana alam
khususnya tanah longsor serta ucapan terima kasih karena telah menjadikan
tanaman-tanaman hasil bumi tumbuh dengan subur untuk bisa dinikmati hasilnya
oleh masyarakat.
2.4. Tata cara Prosesi Siraman di Air Terjun
Sedudo
1.
Upacara diawali dengan sajian tari
sakral yang dibawakan 5 orang penari puteri yang masing masing membawa klenting
(biasanya digunakan untuk tempat air yang terbuat dari tanah liat). Tari ini
menggambarkan permohonan pada tuhan YME agar upacara siraman sedudo berjalan
lancar tanpa ada gangguan. Tari ini diiringi alat musik Jidor dan Tembang Sekar
Mijil.
2.
Dari arah timur 15 gadis berambut
panjang yang berbusana indah serta anggun bak bidadari yang turun dari
kayangan, berjalan menuju ke hadapan bupati, 15 gadis tersebut duduk (jengkeng)
memberi hormat/ sembah mohon doa restu.
3.
Bupati memberikan klenting kepada 5
orang gadis yang duduk didepan, masing-masing secara bergilir (klenting
tersebut telah disiapkan oleh gadis yang juga berambut panjang yang berada
disebelah kiri Bupati)
4.
Setelah menerima klenting, 5 gadis
berdiri, kemudian berjalan perlahan-lahan diikuti oleh 10 gadis lainya menuju
sendang/ kolam dibawah grojogan sedudo, diiringi tembang ilir-ilir yang
dibawakana grup tembang dan tabuhan Jidor.
5.
Setelah sampai dikolam 5 gadis tersebut
menyerahkan klenting, kepada lima orang jejaka taruna yang sudah siap menunggu
dibawah air terjun Sedudo.
6.
Lima orang jejaka mengisi klenting
dengan air dari grojokan, kemudian menyerahkan kembali kepada lima orang gadis
untuk dibawa ketepi kolam (ke arah timur), diikuti oleh 10 gadis lain dan lima
jejaka taruna.
7.
Air suci tersebut diserahkan pada juru
kunci makam desa Ngliman, yang elah bersiap bersama sesepuh desa setempat.
8.
Oleh juru kunci dan sesepuh desa, air
suci tersebut dibawa keatas, selanjutnya disimpan di makam desa Ngliman.
Sedangkan lima gadis dan lima jejaka taruna menuju tempat yang sudah
disediakan. Acara ritual ini ditutup dengan iringan tembang ilir-ilir dan
lagu-lagu shalawatan.
9.
Sambutan dan peresmian siraman sedudo
oleh bupati kepala daerah tingkat II Nganjuk.
10.
Pembacaan doa secara Islam
11.
Mandi bersama, kemudian dilanjutkan
ziarah ke makam Kyai Ngliman
12.
Acara selesai.
2.5. Perlengkapan Prosesi Siraman di Air Terjun
Sedudo
Seperti
kebanyakan ritual orang jawa tidak terlepas dengan perlengkapan perlengkapan.
Perlengkapan yang paling sering digunakan dalam tradisi jawa adalah mengunakan
aneka makanan seperti nasi tumpeng, nasi gulung, jajanan pasar dan lain-lain,
namun dalam prosesi siraman ini memerlukan perlengkapan khusus, contohnya
sebagai berikut :
1.
Kendi Pusaka, Bentuk dan besarnya tidak
jauh berbeda dengan kendi pada uumunya, warna hitam dan terbuat dari tanah liat
\, tingginya kurang lebih 25 cm. Masyrakat ngliman percaya bahwa kendi pusaka
itu memiliki kesakralan khusus, yaitu daoat mendatangkan perasaan tentram dan
memudahkan mencari rejeki apabila meminum airnya. Begitu percanya terhadap
keampuhanya, apabila tidak meminum airnya cukup menyentuh kendinya saja mereka
sudah puas.
2.
Senjata pusaka, senjata pusaka yang
digunakan untuk upacara berjumlah empat buah. Masingmasing bernama : Kyai
Srabat, Kyai Endel, dan Kyai kembar. Kyai Srabat dan Kyai Endel bentuknya
seperti pedang tetapi bagian pangkalnya membengkok seperti kapak, lebar 6 cm
dan panjangnya 30 cm, sedangkan 2 pusaka lainya berbentuk mirip pisaubiasa
dengan ukuran lebar 2,5 cm, panjang 15 cm. Dua buah pusaka yang berbentuk dan
besarnya sama itu disebut diberi nama Kyai Kembar.
3.
Wayang Kayu, wayng kayu atau wayang
krucil jumlahnya ada 3 buah, terbuat dari kayu jati. Ketiga wayang kayu ini
memnggambarkan seorang tokoh kesatria dengan dua orang punokawanya.
Wayang-wayang pusaka itu diberi nama Eyang Bondan, Eyang Jokotruno, Eyang
Betik. Semua wayang pusaka ini disimpan di gedung pusoko yang terletak
disebelah utara masjid Ngliman
2.6.
Pelaksanaan Prosesi Siraman di Air Terjun Sedudo
Sebelum
dilaksanakan upacara inti (upacara suran), jauh jauh hari sebelumnya
dilaksanakan beberapa upacara yang merupakan upacara pendahuluan. Upacara pendahuluan
itu dilaksanakan sampai 3 kali.
1.
Dilaksanakan pada bulan ruwah (25 ruwah)
yang dinamakan, upacara bukak Pundhen. Pada upacara ini, seluruh warga secara
serempak mengadakan selamaatan bersama. Oleh karena letak penduduk di pedukuhan
yang berjauhan (ada empat dukuh yaitu Gimbas, Mukus, Nggilis, dan Bruno) maka
pelaksanaanya ditempat kediaman Kamituwo pada dukuhnya masing-masing. Didalam
acara selametan ini para warga setempat di minta membawa berkat (ambeng), juga
masih perlu menyiapkan nasi gurih dengan lauk pauk ayam ingkung. Setelah
selesai acara Bukak Pundhen biasanya diteruskan dengna acara hiburan dan
permainan anak-anak.
2.
Dilaksanakan pada 1 syawal, sesaat
setelah salat Idul Fitri, yaitu dengan mengadakan selametan di Masjid Ngliman.
Perlengkapan yang harus disediakan pada acara ini ialah dua wadah berkat
makanan, satu wadah berisi nasi kuning, dan telur dadar dan satu wadah nasi
ditambah kue-kue. Setelah acara selametan selesai, dilanjutkan saling
berkunjung antar keluarga.
3.
Dilaksanakan pada bulan Suro, yang
merupakan acara puncakdari serangkaian acara sebelumnya, pelaksanaan upacara ditetapkan
diantara tiga macam hari, yaitu Jumat Legi, Jumat Wage, atau Senin Wage.
Pemillihan dari ketiga hari itu berdasar karena anggapan mana yang berbeantuk
padangulan (bulan purnama). Setelah hari baik terpilih, selanjutnya adalah
selamatan di Kepala Desa Ngliman, dengna perlengkapan yang harus dibawa, yaitu
nasi gurih dengan ayam ingkung. Setelah itu dilaksanakan siraman (penyucian)
benda benda pusaka, pisau dan wayang kayu.
4.
Setelah acara memandikan benda-benda
pusaka selesai, dilanjutkan dengan acara pembagian air suci dari dalam kendi
pusaka, yang sehari sebelumnya telah diidi air terjun Sedudo. Pembagian air
suci inii dilaksanakan di makam Kyai Ngliman yang dilakukan oleh sesepuh desa
dengan didampingi oleh juru kunci makam. Dalam acara ini mereka saling berebut
untuk mendapatkan air suci. Mereka berkeyakinan bahwa sedikit atau banyaknya
memperoleh air suci itu gambaran terhadap banyaknya rezeki yang kita peroleh
pada hari-hari selanjutnya.
5.
Setelah acara pembagian air selesai,
acara selanjutnya adalah ziarah ke makam Kyai Ngliman secara perorangan. Untuk
kesempurnaan zirah ke makam ini sebelumnya harus mensucikan diri di air terjun
Sedudo. Dalam acara terakhir ini tidak hanya diikuti oleh masyarakat desa
Ngliman dan sekitar saja, banyak pendatang dari luar kota bahkan dari luar
pulau.
2.7.
Nilai-nilai Prosesi Siraman di Air Terjun
Sedudo
1.
Nilai religius
Nilai
religius timbul karena seseorang manusia mempercayai akan adanya Tuhan. Manusia
pada dasarnya mempunyai sifat kodrati
yang rapuh, sehingga mereka mencari sandaran yang kuat untuk menutupi
kerapuhan manuisa. Manusia mepercayai tuhan agar tetap bisa bertahan dalam
kondisi yang kritis, seperti menghindari depresi hingga bunuh diri. Nilai
religius yang ada dalam upacara siraman adalah Maksud dan tujuan prosesi
Siraman itu sendiri yaitu rasa syukur pada tuhan yang maha kuasa karena telah
terhindar dari musibah bencana alam khususnya tanah longsor serta ucapan terima
kasih karena telah menjadikan tanaman tanaman hasil bumi tumbuh dengan subur
untuk bisa dinikmati hasilnya oleh masyarakat Ngliman.
2.
Nilai sosial
Nilai sosial
tidak bisa dilepaskan oleh manusia, karena sejatinya manusia adalah makhluk
sosial, namun jika nilai sosial tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,
kemungkinan seorang manusia mudah mengalami rasa putus asa. Dalam upacara
siraman ini terdapat nilai nilai sosial yang terkandung didalamnya. Nilai
sosial nampak dari kebersamaan masyarakat
desa ngliman bergotong royong, saling membantu menyiapkan perlengkapan dan
berusaha menyelesaikan upacara Siraman. Mereka rela menyisihkan waktu, tenaga,
pikiran dan materi mereka agar pelaksanaan tradisi siraman ini berjalan dengan
lancar dan sukses. Jika tradisi berjalan dengan sukses, nama desa mereka bisa
terkenal karena ribuan pasang mata menyaksikan setiap tahapan dari upacara
siraman ini.
Bab III :
Penutup
3.1. Kesimpulan
Latar belakang upacara Siraman Masyarakat Desa Ngliman Menurut
kepercayaan penduduk, sang Dudo itu adalah orang yang membuka (cikal bakal)
Desa Ngliman, yang setiap hari digunakan sebagai tempat mandi sang dudo yang
dianggap sebagai cikal bakal desa Ngliaman itu. Kebiasaan mandi di air terjun
tersebut kemudian diikuti oleh masyrakat desa Ngliman. Dalam upacara Siraman
ini mengandung nilai nilai luhur yang patut untuk diamalkan.
Nilai-nilai
yang terkandung dalam upacara Siraman diantaranya Nilai religius. upacara
Siraman adalah Maksud dan tujuan prosesi Siraman itu sendiri yaitu rasa syukur
pada tuhan yang maha kuasa karena telah terhindar dari musibah bencana alam.
Nilai yang lain adalah nilai sosial, Nilai sosial nampak dari kebersamaan masyarakat desa ngliman bergotong
royong, saling membantu menyiapkan perlengkapan dan berusaha menyelesaikan
upacara Siraman
3.2.
Saran
Saran
dari saya yaitu nilai-nilai budaya dan tradisi siraman di daerah Nganjuk harus tetap
dilestarikan jangan sampai warisan budaya dari nenek moyang kita hilang dan anak
cucu kita tidak tahu tradisi dan budaya yang ada di daerahnya.
Daftar Pustaka
Buku:
Harimintadji
dkk. 1998. Nganjuk dan Sejarahnya.
Nganjuk : -
Lorens,
Bagus. 2002. Kamus Filsafat. Gramedia. Jakarta.
Magnis-Suseno, Franz. 1992. Fislafat
Kebudayaan Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Peursen,
C.A. van. 1988. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.
Wahana,
paulus. 2004. Nilai Etika Aksiologis Max
Scheler. Yogyakarta : Kanisius
Web:
http://travel.kompas.com/read/2012/07/27/13142246/Mitos.Air.Terjun.Sedudo.html
Komentar
Posting Komentar